Teaching critical thinking through engagement with multiplicity

(Pengajaran berpikir kritis melalui keterlibatan dengan keberagaman)

Teun J. Dekker

Thinking Skills and Creativity, Volume 37, 2020 (29-7-2020)

Pengembangan Diri

Open Access

Kategori:

Abstrak Bahasa Inggris

It is widely agreed that contemporary higher education should teach critical thinking. In order to explore how university programmes can do so more effectively, this paper examines how students in European Liberal Arts and Sciences (LAS) programmes, which are renowned for developing critical thinking skills, experience how they acquire this ability. Based on a number of interviews with students in a range of LAS programmes, it is concluded that these students believe that they learn critical thinking by engaging with a multiplicity of perspectives on problems and issues. This makes them sceptical towards decontested claims to knowledge, appreciate different academic and social perspectives, and realise what they themselves should believe or do. LAS programmes achieve this through a multidisciplinary curriculum, a student-centred pedagogy, and a diverse academic community. This insight generates a number of suggestions for how other programmes might teach critical thinking better.


Abstrak Bahasa Indonesia

Telah disetujui secara luas bahwa pendidikan tinggi kontemporer harus mengajarkan berpikir kritis. Untuk menyelidiki bagaimana program-program universitas dapat melakukannya dengan lebih efektif, makalah ini meneliti bagaimana mahasiswa dalam program Seni dan Ilmu Liberal Eropa (European Liberal Arts and Sciences) (SIL), yang terkenal karena mengembangkan kemampuan berpikir kritis, mengalami proses memperoleh kemampuan ini. Berdasarkan sejumlah wawancara dengan mahasiswa dalam rentang program SIL, disimpulkan bahwa mahasiswa-mahasiswa ini percaya bahwa mereka belajar berpikir kritis melalui keterlibatan dengan keberagaman perspektif terhadap berbagai masalah dan isu. Hal ini membuat mereka menjadi skeptis terhadap klaim-klaim pengetahuan yang tidak terbantahkan, mengapresiasi berbagai perspektif akademik dan sosial yang berbeda, dan menyadari apa yang harus mereka percaya atau lakukan. Program SIL memperoleh hal ini melalui kurikulum multidisiplin, pendidikan yang berpusat pada mahasiswanya, dan komunitas akademik yang beragam. Wawasan ini menghasilkan sejumlah saran mengenai bagaimana program-program lain mungkin dapat mengajarkan berpikir kritis dengan lebih baik.


Dekker, T. J. (2020). Teaching Critical Thinking Through Engagement with Multiplicity. Thinking Skills and Creativity, 37, 100701. https://doi.org/10.1016/j.tsc.2020.100701


The original work of the article's abstract was translated from English to Indonesia.

Karya asli dari abstrak ini telah diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Penerjemah Abstrak: Fadia Nur Ainina

Pengendali Mutu Abstrak: Paulus Hared Samosir

#

critical thinking (berpikir kritis), liberal arts and sciences (seni dan ilmu liberal), higher education reform (pembaruan pendidikan tinggi)

logo wikilead white yellow.png
  • LinkedIn
  • Twitter
  • YouTube
  • Instagram
straight white pemimpin.id png.png
  • Facebook
  • Twitter
  • YouTube
  • Instagram

Daftar untuk informasi terbaru