Johan Galtung, Aktivis Perdamaian yang Memperjuangkan Feminisme


Johan Galtung

Pernahkah kamu mengenal sosok Johan Galtung? Kalau belum, mulai sekarang kamu WAJIB kenal ya!!! Kenapa? Berikut alasannya:


Bernama lengkap Johan Vincent Galtung, dia adalah seorang warga negara Norwegia yang merupakan sosiolog, matematikawan, dan penemu disiplin ilmu perdamaian. Tidak hanya itu, Johan juga seorang penulis yang menghasilkan banyak karya dari mulai esai hingga buku.


Galtung pertama kali menatap dunia di Oslo pada tanggal 24 Oktober 1930. Dia dilahirkan di keluarga yang berpendidikan dan memiliki saudara perempuan. Ia sukses sebagai aktifis perdamaian tak lepas dari figur Ayahnya.


Ayah Galtung adalah seorang dokter dan politisi. Meskipun sudah mendapatkan gelar kedokteran, Ayahnya masih terus belajar ilmu lain salah satunya ekonomi politik.

Berangkat dari hal tersebut, akhirnya Galtung berpikir bahwa “Jika kita mempelajari satu pelajaran, seharusnya tidak berarti menghalangi kita untuk belajar hal lain.”


Jejak Karir Johan


Pada tahun 1959, Galtung mendirikan Peace Research Institute Oslo (PRIO) serta menjadi direktur utama hingga tahun 1970. Selain itu, pada tahun 1964, Galtung merintis Journal of Peace Research. Galtung merupakan dosen mata kuliah perdamaian dan pernah menjadi guru besar di berbagai universitas.


Berkat predikatnya sebagai aktivis perdamaian, Galtung sering menjadi negosiator dan fasilitator resolusi konflik dalam sejumlah konflik internasional misalnya antara Korea Utara dan Korea Selatan, Israel dan Palestina, dan lain-lain.


Selain aktivitis, Johan Galtung juga bekerja di puluhan universitas dan lembaga penelitian, di antaranya di Oslo, Dubrovnik, Berlin, Santiago, Princeton, Jenewa, Hawaii, Kyoto, Schlaining, Witten/Herdecke, dan lain-lain. Galtung juga menjadi konsultan dari berbagai Badan PBB seperti UNESCO, UNCTAD, WHO, ILO, FAO, UNU, UNEP, UNIDO, UNDP, UNITAR, dan UNRISD. Selain itu, Galtung juga telah melahirkan lebih dari 1.600 artikel dan 160 buku.


Segitiga Kekerasan, Buah Pikir Galtung


Buah pikir Galtung yang dikenal salah satunya berbunyi seperti ini; "kekerasan dapat diklasifikasikan dengan ‘Segitiga Kekerasan’, yaitu kekerasan langsung, struktural, dan kultural." Kekerasan langsung dapat dilihat secara nyata baik wujud serta pelakunya, kekerasan struktural melukai kebutuhan dasar manusia tapi tidak ada pelaku langsung yang dapat diminta tanggung jawabnya, dan kekerasan kultural merupakan legitimasi atas kekerasan struktural maupun kekerasan langsung secara budaya.


Galtung juga berpikir bahwa patriarki sebagai kekerasan langsung, struktural, dan kultural. Oleh karena itu, Galtung juga dikenal dengan pejuang feminisme agar tidak ada lagi kekerasan yang diwajarkan menimpa perempuan.


Penghargaan Brilian Galtung


Selama hidupnya, Galtung mendapatkan banyak penghargaan berkat upayanya pada perdamaian dunia. Salah satunya pada tahun 1987, Galtung menerima Right Livelihood Award, penghargaan alternatif yang mengimbangi Penghargaan Nobel. Selain mendapatkan berbagai penghargaan, ia juga menerima gelar Doktor Honoris Causa dan Profesor Kehormatan dari sedikitnya 15 universitas terkemuka di dunia.


"Peace equals ability to handle conflict, with empathy, nonviolence, and creativity," Johan Galtung








16 views0 comments