Osamu Dazai: Penulis yang Tenggelam dalam Depresi hingga Akhiri Hidup yang Tragis



Wikileaders pada suka anime juga nggak nih? Buat yang suka, mungkin pernah mendengar nama Osamu Dazai. Yup, nama ini ada di anime “Bungou Stray Dogs” yang dirilis pada 2016 silam. Lalu, muncul juga di anime “Bungou to Alchemist – Shinpan no Hugurama” yang rilis pada 2020 kemarin.


Ternyata, nama itu bukan sekadar karakter anime saja, melainkan dibuat berdasarkan sosok yang ada di dunia nyata. Osamu Dazai di dunia nyata merupakan seorang penulis yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Berikut sosok dan kisah hidupnya:


Biografi Singkat


Sebenarnya, nama Osamu Dazai bukanlah nama aslinya. Nama aslinya ialah Tsushima Shuji. Shuji lahir pada 19 Juni 1909 di Kanagi, Jepang dengan membawa privilege yang cukup tinggi. Ayahnya adalah seorang politikus besar saat itu, yakni Tsushima Gen’emon dan ibunya bernama Tane, seorang wanita yang berasal dari keturunan petani kaya raya.


Bermula dari Sekolah Menengah


Hidup dalam kemewahan di bawah kekuasaan ayahnya, tidak membuat Shuji tinggi hati. Diketahui, ia tidak meneruskan kekuatan ayahnya sebagai politikus, melainkan sebagai penulis. Setelah ayahnya meninggal (1923), ia masuk sebagai murid kelas satu sekolah menengah. Di umur 17 tahun, ia berhasil membuat karya pertamanya yang berjudul Saigo no Taiko dan dimuat dalam dojinshi Seiza. Dari situ, ia mulai bercita-cita menjadi penulis hebat.


Percobaan Bunuh Diri


Karya sastra Jepang mulai dipengaruhi kesusastraan proletariat dan kesuksesan karir penulis Shuji mulai naik sedikit demi sedikit. Karirnya yang kian lama makin melejit, tidak membuat hati Shuji bangga. Pada 10 Desember 1929, ia mencoba bunuh diri dengan menelan obat penenang (Calmotin) karena takut jika tidak naik kelas.


Penulis yang Salah Jurusan


Setelah lulus SMA (1930), ia masuk ke jurusan sastra Perancis di Universitas Kekaisaran Tokyo. Sebenarnya, ia tidak mengerti apapun tentang bahasa Perancis dan sastranya. Dengan budaya pendidikan Jepang yang cukup tinggi, Shuji merasa ia telah salah jurusan, sehingga ia memilih untuk terlibat dalam gerakan sayap kiri. Ketika berusia 21 tahun, ia meminta penulis Masuji Ibuse untuk menjadi guru dan disitulah ia mendapat nama pena, yakni Dazai Osamu.


Romansa yang Berakhir Sad Ending


Setelah merasa salah jurusan, ia melampiaskannya dengan tidak membayar uang kuliah. Alhasil, ia dikeluarkan dari universitasnya. Sebelum keluar, ia sempat berpacaran dengan istri orang, yakni Shimeko Tanabe (19 tahun). Suasana pacarannya tidak seindah drama cinta perkuliahan. Shimeko dengan Shuji menenggalamkan diri di laut Koshigue. Kebetulan, ada kapal nelayan yang ingin menyelamatkan mereka berdua. Shuji berhasil selamat, tetapi kekasihnya sudah duluan ke akhirat. Ngomong-ngomong, Shuji sudah melakukan percobaan bunuh diri sebanyak dua kali.


Karya Populer dan Percobaan Bunuh Diri Kedua


Beberapa karya berhasil diterbitkan dan masuk ke dalam nominasi penghargaan. Sebut saja, cerpen bernama Ressha yang dimuat dalam majalah Sunday To-o, Gyofukuki di dojinshi Kaihyo, dan Gyakko yang masuk dalam nominasi Penghargaan Akutagawa ke-1. Namun, karya tersebut gagal menang.


Alhasil, Dazai mencoba alih profesi sebagai pegawai kantoran, tetapi gagal seleksi di Miyako Shimbun. Ia depresi kemudian mencoba untuk gantung diri, tetapi gagal lagi.


Mental yang Stabil saat Berkeluarga


Pada 1938, gurunya, Masuji Ibuse pergi ke Puncak Misaka untuk menjodohkan Shuji dengan Michiko. Dalam kehidupan pernikahannya, kesehatan mental Shuji perlahan stabil. Ia bahkan menciptakan karya-karya terkenal seperti Fugaku Hyakkei, Kakekomi Uttae, dan Hashire Melos. Bahkan, Shuji memiliki 3 anak cantik nan tampan yang bernama Senoko (1941) Masaki (1944), dan Yuko (1947).


Pasca Perang Dunia dan Percobaan Bunuh Diri yang Malah Berhasil


Sempat memiliki banyak pacar walau memiliki 3 anak, Shuji berhasil menerbitkan karyanya berjudul Shayo (1947). Ditulis berdasarkan buku harian Shizuko Ota pacarnya, Shayo berhasil menarik pujian dari para kritikus. Di tahun yang sama, Shuji juga memiliki anak perempuan bernama Haruko Ota.


Setelah berulang kali mencoba bunuh diri, akhirnya Shuji tewas bersama kekasih barunya, yakni Tomie Yamazaki dengan menenggalamkan diri di Sungai Mitaka, Tokyo.


Jenazahnya ditemukan pada 19 Juni 1948 yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-38. Ia dimakamkan di Zenrin-ji, Mitaka, Tokyo. Dalam kematiannya, ia meninggalkan satu novel yang belum selesai bernama Goodbye.



Takarir:


Sekedar informasi, bukan ketiga kalinya, Shuji gagal dalam percobaan bunuh diri. Pada 1937, ia menciduk kekasihnya bernama Hatsuyo Oyama yang sedang selingkuh dengan seorang pelukis. Akhirnya, Shuji mengajak Hatsuyo untuk bunuh diri dengan menelan calmotin hingga overdosis, tetapi gagal juga. Di situ, Shuji juga berhenti menulis selama setahun.


Dari sini, Litmin bisa belajar bahwa kehidupan bangsawan dengan harta dan kedudukan yang aduhai, tidak menjamin kita bakal hidup bahagia. Standar politik, budaya, dan sosial yang begitu tinggi di Jepang mempengaruhi kondisi mental anak muda disana. Bahkan, hal itu terjadi hingga zaman kini dengan budaya harakiri yang melekat.


Oh iya, kisah beliau juga diadaptasi oleh anime Jepang yang berjudul Bungou Stray Dogs (2016). Wikileaders, sudah ada yang nonton itu, belum?


105 views0 comments